Kamis, 26 Maret 2020


akhir penyesalan seorang anak

hidup di seoul dengan mata buta dan harus membiayai kedua putrinya yang bernama sinb dan eunha mereka berdua masih duduk dibangku sma. sinb adalah kakak eunha yang telah berumur 18 tahun dan duduk dikelas 3 sma sedangkan eunha masih duduk di kelas satu sma. tanpa seorang ayah sinb, eunha dan ibu mereka, yuju menjalani kehidupan di rumah mereka walau nampak sempit, eunha tetap ikhlas menerimanya, sedangkan sinb bagai gila diubun ubun, ia tak menginginkan kehidupannya yang sekarang, ia ingin menjadi kaya raya. karena dari itu dia pergi ke kamar ibunya, yuju yang kebetulan ibu dan eunha adik kandungnya pergi keluar, ia ambil sertifikat tanah milik ibunya. lalu ia segera pergi ke tempat sowon yang seorang rentenir, sinb gadaikan dengan uang 20 juta won dengan sertifikat rumah itu. “batas kamu pinjamuang saya em…. kira kira dua bulan ke depan!!, sampai dua bulan ke depan kamu gak bias mengembalikan uangku. apa boleh buat, kusita semua harta dan rumah kamu…. gimana. setuju?” ujar sowon berkata sambal mengipas-ngipas rambutnya.

“emmmm…. gimana ya? setuju deh …..” ujar sinb sambal menyodorkan sertifikat rumah ibunya. tanpa rasa bersalah sinb langsung bergegas menuju butik yang paling glamour di daerah kota. setelah sampai di toko ia terpesona dengan seorang laki-laki yang gagah dan sempurna menurutnya.tanpa basa basi ia hampiri lelaki itu sambal bertanya tanya tempat tinggalnya.

“oppa, oppa!!” teriak sinb memanggil lelaki itu

“nani kore?” sapa lelaki itu kembali

“oppa, kenalkan nama saya sinb” balas sinb dengan sopan

“oh….perkenalkan nama saya jungkook” ujarnya membalas

“jungkook oppa tinggal dimana???” sodor pertanyaan sinb dengan mata berkedip kedip

“saya sedang mencari tempat tinggal tetapi tidak kunjung juga dapat” ujar jungkook memelas

“oppa boleh tinggal di rumah atap tempat saya….namun agak sempit gitu” ujar sinb

“terima kasih ya” jawab jungkook setuju

pergilah mereka berdua ke rumah sinb. sampai di rumah, sinb mendapati ibu dan adiknya sudah pulang. datanglah yuju sambal berjalan dibantu eunha.

“sudah pulang ya nak?” tanya sang ibu

“kak, dia siapa?” kok kakak bawa laki-laki” segala tanya eunha

“ah, ibu sama ank sama saja sama sama belagu sinb bantu oppa yang terlantar malah gak didukung!!” jawab sinb dengan sinis

“tapi bawa teman laki-laki itu gak boleh nak!! apa kata warga nanti?? ujar ibu marah

“masalah buat loe!!” jawab sinb

dibawanya jungkook ke lantai atap yang kosong, ia beri kamar tersebut untuk menginap sementara waktu. benar apa yang dikatakan yuju, keesokan harinya warga datang menghampiri rumah tersebut sambal melempari rumah dengan batu. disituasi tersebut keluarlah eunha dan bertanya tanya

“maaf, ada masalah apa ya bapak dan ibu sekalian?” tanya eunha. lalu salah satu dari mereka menjawab

“antum pura pura kagak tahu kali ya, kakakmu telah mencemari nama baik daerah kita dengan membawa laki-laki benar gak saudara sekalian?” ujar penghasut tadi

“benar!!” serempak menjawab saat itu datanglah sinb dan laki laki itu

“nani kore!!” tanya sinb dengan kesal

“nah itu dia orangnya!!” kata seorang dari mereka

“bantai aja guys!!” sambung seseorang dari mereka

“eits….jangan main bantai aja dong, masa gak ada solusi lain sih…” sahut sinb

“kita usir aja mereka dari sini!!” kata seorang penghasut dari mereka

“kalau kalian mau usir kami, ini rumah harus sukses terjual dulu bambang, baru boleh kalian usir kami” jawab sinb dengan lantang. sementara sang ibu yang notabenenya buta tak henti-hentinya meneteskan air mata. dari rumah tetangga, yerin keluar dan melerai massa tersebut

“ibu gak apa apa kan bu?” tanya eunha pada ibunya

“gak apa apa kok nak, santuy” jawab yuju dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. yerin bergegas menuju ahjumma

“ahjumma, are you okay. bagaimana kalua saya bantu cari makelar yang berminat membeli rumahnya? entar saya bantu. tapi ada komisinya lah” tanya bapak itu. sontak saja sinb langsung menjawab dengan semangat tanpa memliki beban yang berarti

“kalau bisa yerin silahkeun, tapi… surat rumahnya sudah saya gadaikan sama sowon si rentenir. please help me ambil kembali suratnya ya yerin” jawab sinb santuy

“oke nevermind, akan saya bantu semampunya”

beberapa hari kemudian eunha pulang bersama umji dari sekolah. umji adalah sohib eunha, mereka bak bunga dan batang yang sulit terpisahkan. eunha melihat dari kejauhan di depan rumahnya ada sowon si rentenir. ia bergegas menghampiri sowon sambal bertanya

“ahjumma ada keperluan apa kemari, cari siapa ya btw?” tanya eunha denga sopan

“keluarkan gembel buta map itu” jawab sowon dengan barbar

“lho, antum ada masalah apa?” tanya eunha balik bertanya

“antum pura pura kadak tahu ya, belagu amat loe ya. ini lho kakakmu dua bulan lalu pinjam uang sama aku 20 juta won. jadi bisa bayar atau kagak nih kalian? kalua gaak bisa bayar, bakalan saya sita semua aset rumahmu” jawab sowon

“ano ne ano ne” eunha menangis dan langsung bergegas masuk menemui ibunya di rumah

“gak ada tapi tapian, keluar kalian semua!” ujar rentenir tersebut

keluarlah eunha dan yuju dari rumah mendiang suaminya. pergilah mereka ke kolong jembatan tol. menjelang malamnya, sinb tak kunjung menemui mereka. ia pergi ke telepon umum untuk minta bantuan pada sohibnya umji

“umji, bolehkah aku dan ibuku menginap sementara di rumahmu?” tanya eunha sambal terisak isak

“lho eunha, apa yang terjadi?” tanya umji

“aku dan ibuku diusir dari rumah karena sinb berutang pada rentenir dan tidak kunjung dibayar sampai lewat jatuh tempo. bolehkah? kasihan ibuku sakit….” ujar rina sembari menghapus air matanya

“oke, no problem, tapi kamu sekarang posisi dimana? biar aku jemput” umji menjawab

setelah umji si chaebol menjemput eunha dan yuju di lokasi, sampailah mereka di rumah umji dan ditunjukkan kamar untuk mereka berdua. eunha mendapat sambutan hangat dari keluarga tersebut

“umji… bolehkah aku pinjam smartphonemu untuk menelpon sinb yang entah dimana?” ujar eunha khawatir

“oh of course…” jawab umji. disodorkan smartphone miliknya yang segera disambar oleh eunha untuk menghubungi sinb

“unnie…unnie…dimana posisi sekarang? aku dan ibu cemas” tanya eunha

“sinb lagi dirumah jungkook, daripada sama ibu yang gak bakalan membiayai kuliahku. paling banter jadi ibu rumah tangga kali ya!!” sinb menjawab, seketika ia menutup telpon dari eunha. eunha hanya bisa menangis meratapi nasibnya mengetahui bahwa sinb buta hati. datanglah umji membawa eunha ke kamarnya, setelah sampai di kamar betapa terkejutnya umji mendapati yuju terbujur kaku, ia periksa denyut nadi dan ternyata…. rest in peace

ibunya telah beristirahat dengan tenang, tak elak kuadruplet kesedihan yang dialami eunha. dia begitu histeris dan mencoba membangunkan ibunya tapi semua itu percuma tak berguna, tuhan berkehendak lain. eunha mencoba menghubungi sinb tapi tidak kunjung dibalas. akhirnya eunha bersama umji mencoba mencari keberadaan sinb. sampai di sebuah kampus tempat sinb kuliah. eunha tidak ingin menginformasikan bahwa ibunya telah dikremasi

tangis menderu di rumah duka. guci bertulis yang menyayat hati dan karangan bunga menambah kesedihan yatim piatu. ia berlari menuju tempat sinb berada. ia temui kakaknya di taman

“kak, ibu ingin bicara sekali saja” kata eunha

“ngapain kamu kesini pakai dresscode beginian? aku mau datang tapi ada syaratnya” ujar sinb

“apa syaratnya? pamali… pamali” ujar eunha bertanya

“jangan pernah sekali kali kamu menemuiku lagi mulai sekarang” jawab sinb

“oke deal” jawab eunha sambil terisak isak. kemudian pergilah mereka ke rumah duka yang ternyata tidak terlalu jauh dari kampusnya

“ini ibu kak” tangis eunha

“omma, ….bagaimana mungkin” sinb terkejut

“kakak lebih buta dari ibu, buta hatinya” kata eunha. sinb seketika pergi menjauh dan menyesali perbuatannya selama ini






Tidak ada komentar:

Posting Komentar